Oleh: jemaatsamaria | Agustus 27, 2012

Jangan Pernah Berkompromi Dengan Dosa

Jangan Pernah Berkompromi Dengan Dosa

Zakharia 5:1-4

Nabi Zakharia bernubuat antara tahun 520 s/d 518 SM di tengah umat Israel yang baru kembali dari pembuangan di Babel, pasal 1 sampai 8 berisi ramalan-ramalan yang kebanyakan dalam bentuk pengli­hatan. Penglihatan yang keenam pasal 5:1-4 ini merupakan kesatuan dengan penglihatan yang ketujuh. Keduanya berkisar tentang soal dosa. Penglihatan itu menunjukkan bahwa orang-orang berdosa yaitu para – pencuri dan mereka yang bersumpah palsu akan dihukum.

Zakharia melihat gulungan kitab yang terbuka dan ia melihat ukurannya, yaitu sama dengan ukuran ruangan depan Bait Suci yang dibuat oleh Salomo (I Raja 6:3). Gulungan itu ditulis yang isinya adalah mengenai kutuk terhadap para pencuri dan yang bersumpah palsu itu. Kedua macam dosa ini banyak muncul dalam situasi, dimana masih banyak perkara mengenai hak milik seperti tanah diperebutkan antara orang-orang yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya dengan orang-orang yang kembali dari pembuangan di Babel yang menuntut kembali milik nenek moyang mereka.

Orang-orang berdosa itu dicari satu-persatu dirumah mereka masing-masing. Di sini tidak ada lagi hukuman kolektif seperti yang terjadi waktu pembuangan dalam jaman yang baru, yang disebut zaman keselamatan, hukuman akan dijatuhkan pada individu-individu. Orang-orang yang berdosa itu akan diusir satu persatu.

Ada banyak orang yang tidak menganggap dosa itu sebagai suatu yang serius, yang seakan-akan dianggap   enteng  oleh Tuhan. Padahal dosa itu adalah sebagai suatu kuasa yang memperbudak manusia. Paulus mengatakan bahwa orang yang senang berbuat dosa adalah hamba dari dosa. Sebagai hamba dosa, orang hauss melakukan apa yang dikehendaki oleh tuannya yaitu dosa (bdk.Roma 6).

Ada juga orang yang beranggapan bahwa yang mendapatkan hukuman Tuhan nanti hanyalah mereka yang tidak percaya kepada Yesus. Sedangkan kita yang sudah percaya kepada Yesus aman saja. Alkitab tidak mengatakan demikian setiap orang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Iman itu harus nyata dalam perbuatan dan setiap sikap hidup. Pertobatan tidak cukup hanya satu kali seumur hidup, tetapi setiap hari, sebab orang yang baik hari ini besok bisa jatuh dalam dosa. Dosa itu harus dilawan. Dosa adalah suatu kuasa yang dengannya kita tidak boleh berkompromi. Tuhan Yesus membenci dosa dan orang-orang yang bertahan dalam dosa pasti dihukum, sebab itu Yesus berkata kepada perempuan yang kedapatan berbuat zinah itu “akupun tidak menghukum engkau pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh.8:11).

Dosa mencuri dan bersumpah palsu seperti dalam nas kita selalu menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Mencuri tidak hanya terbatas pada mencuri barang atau uang. Segala sesuatu yang sifatnya mengambil Yang bukan hak milik kita dan merugikan pihak lain seperti korupsi atau tidak mempergunakan waktu lalu merugikan pihak lain adalah sama dengan mencuri. Sedang sumpah palsu diucapkan sebagai pembelaan bahwa yang bersangkutan tidak bersalah. Sumpah palsu itu gampang sekali keluar dari mulut seseorang. Misalnya orang yang mengatakan “kalau saya berbuat itu, gantung saja saya di Monas.’ Terhadap sesama manusia kita bisa berbohong, tetapi Tuhan tidak bisa dibohongi. Dan terhadap Dia kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita.

 

Pdt. Emr. Ingge Namur. STh Pendeta Resort GKE  Palangka Raya Hilir

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: