Oleh: jemaatsamaria | Juli 3, 2012

Pakailah Kehendak Allah

Hakim-Hakim 17:1-13                                                              Rabu, 4 Juli 2012

Pakailah Kehendak Allah

Sejarah kronologis tentang hakim-hakim telah berakhir pada pasal 16. Dan memasuki bagian terakhir kitab hakim-hakim (pasal 17-pasal 21) menguraikan standar-standar moral yang rendah, upacara-upacara keagamaan yang sesat dan tantangan sosial yang kacau di Israel selama periode hakim-hakim. Contoh-contoh yang menunjukkan bahwa jikalau firman Allah dan prinsip-prinsip moral yang dibenarkan diabaikan, maka individu maupun masyarakat secara akan dibinasakan (Band. Amsal 14:34,21:77).

Nas kita pada saat ini mengemukakan/contoh penyembahan berhala pribadi/ perbuatan yang dilakukan adalah benar menurut pandang dirinya sendiri, padahal tidak¬lah demikian seperti Amsal 16:1-3,9 bahwa manusia hanyalah bisa berencana tetapi Allahlah jawabnya. Mikha adalah contoh seorang yang tidak tunduk kepada kekuasaan dari pemyataan Allah yang diihamkan dan tertulis yang diberi melalui Musa, sehingga ia menipu dirinya sendiri dan melakukan apa yang benar menurut pandangannya sendiri (ayat 6), band. Ulangan 11:18-25 dan ia percaya bahwa ia dapat menerima berkat Allah (ayat 13) tetapi pada saat yang bersamaan melanggar semua perintah Alkitab yang jelas. Dosa-dosanya meliputi mencuri (ayat 2), menyembah berhala (ayat 3-5), tidak mentaati perintah-perintah Allah (ayat 6) dan mengangkat anaknya sebagai iman (ayat 5-13). Dengan demikian pemahaman yang benar dan pertimbangan moral yang sehat hilang di Israel ketika bangsa itu meninggalkan perjanjian Allah.

Melalui nas ini ada hikmat tersendiri yang dapat untuk kita pahami bersama, bahwa tidak benar kita mempersiapkan sembahan menurut ukuran atau kehendak kita sendiri, karena itu berarti bahwa kita dengan sengaja meniadakan Allah, menjauhkan diri kfta dari Allah yang kepada Dialah kita menyembah. Demikian pula adalah sesuatu yang sangat fatal atau berbahaya kalau kita menganggap setuju bahwa apa yang kita lakukan pasti berkenan di hadapan Allah, dengan mengandalkan apa yang menjadi kekuatan kita.

Karena itu, apabila kita mengabaikan standar-standar mutlak Allah demi mencapai keinginan kita yang subyektif akhimya mengalami kekacauan rohani, moraI dan sosial. Tetapi orang percaya sejati akan dengan senang hati tunduk kepada standar dan pen¬dirian Allah sebagaiamana dinyatakan dalam firmanNya yang tertulis.

Yang menjadi sikap kita sebagai orang percaya adalah agar kita tidak memanfaatkan waktu yang ada yang menjadi pemberian Allah untuk melakukan apa yang sesuai dengan kehendak kita tetapi pakailah kehendak Allah, supaya kita menjadi orang yang berkenan hanya agi Allah, didalam Yesus Kristus Juruselamat kehidupan kita dan menjadi surat-surat Kristus yang dapat dibaca oleh banyak orang.

Pdt. Husiana Nuhan, S.Th. Pendeta Resort GKE Palangka Raya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: