Oleh: jemaatsamaria | Juni 1, 2012

Ulangan  25:5-10                                                                                                      Jumat,01 juni 2012 

 Mari Melihat Hukum Sesuai dengan Kebutuhannya !

 Membaca nast ini membuat hati saya agak tergetar. Begitu utamanya anak laki-laki itu, sehingga bagi janda yang tidak punya anak laki-laki, wajib menikah dengan kakak atau adik iparnya, demi anak (ayat 5).Nggak enak banget ya jadi perempuan Israel. Terlebih lagi, usaha perempuan ini, ternyata bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk suaminya karena fungsi perkawinan ipar (levirate) ini untuk meneruskan nama suaminya (ayat 6).

Dalam Hukum kawin ipar ini, ternyata tidak mempersoalkan tentang kesediaan kaum perempuan, karena yang disoroti justru kesediaan (ayat 7-8). Laki-laki yang tidak bersedia melakukan pernikahan ipar, secara hukum akan dipermalukan di depan umum, dengan eksekutor adalah perempuan itu (ayat 9a). Sampai di sini, saya merasa agak lega, karena secara hukum perempuan diberi energi dan jaminan, dapat bertindak di ruang publik secara sah.

Selanjutnya, saya dapat memahami dengan lapang nast ini, ketika membaca maksud hukum ini dibuat, yakni untuk menjamin kesinambungan hidup kaum keturunan dari saudaranya yang telah meninggal. Jelas dalam perkataan inilah harus dilakukan kepada orang yang tidak mau membangun keturunan saudaranya” (ayat 9b). Dalam hal ini, bagi mereka yang tidak menjalankan kewaiban membangun keturunan saudaranya, layak diberi gelar kaum yang kasutnya ditanggalkan orang (ayat 10). Penanggalan kasut ini merupakan sebuah tindakan simbolis untuk memandakan adanya pemindahan milik.

Dalam hal ini, jika ini dikenakan pada janda saudaranya ini, maka perempuan itu dengan segala yang dipunyainya bukan lagi milik kaum keturunan suaminya atau istri menjadi bebas (lihat dalam Cerita Rut dan Naomi). Artinya, bagi penanggalan kasut ini merupakan tanda hukuman, sementara bagi perempuan menjadi tanda pembebasan. Mmmm…. Ini menjadi sulit buat saya! Karena rasanya tidak nyaman merasa gembira dan bebas, sementara ada pihak yang terhukum.

Apa yang mau kita renungkan dalam nast ini? Pertama, hukum harus dapat memberikan jaminan , pada tindakan yang berkeadilan bagi semua. Memang agak sulit dipahami, jika konsep keadilan yang kita anut bersifat normatif, yakni adil bararti sama rata, sama rasa. Namun, jika keadilan dipahami bersifat fungsionaf, maka akan menghasilkan tindakan yang disesuaikan dengan kebutuhan. Contoh, bagaimana berlaku adil pada sebuah Roti Tart Ulang Tahun, pada bayi dan anak Balita. Saya rasa cukup adil, dengan memberikan banyak pada anak, dan secuil kecil pada bayi, karena sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Kedua, yang penting hukum itu berpihak pada matiluk yang dilemahkan dalam masyarakat dan juga diperkuat dengan sikap yang jelas bagi tingkah laku manusia. Walaupun ,gereja adalah lembaga rohani, namun dalam menjalankan tugasnya sehari-hari terikat dalam aturan tertentu. Ada baiknya rnemikirkan sikap dari aturan itu agar tidak( abu-abu. Misalnya mengenai pergi ke kuburan pada saat malam paskah? Saya belajar dari saudara kita yang Katolik„ gereja dengan tegas menerima tradisi ini, dengan menjadwalkan secara resmi keluarga yang beribadah dikuburan semalam suntuk. Bagi saya ini baik, sehingga jemaat yang melakoninya tidak ragu-ragu. Jika tindakan itu tidak secara resmi dilarang, namun juga selalu mendapat kritikan, bukankah justru akan menimbulkan keragu-raguan di kalangan jemaat. Mari melihat hukum sesuai kebutuhannya! Karena dengan demikian akan jelas keberpihakan sikap gereja!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: