Oleh: jemaatsamaria | Mei 31, 2012

Mari Menyepadankan Pemberian dan Layanan !

Renungan : Lamis, 31 Mei 2012 (Keluaran 38:21-31)

Mari Menyepadankan Pemberian dan Layanan !

Membaca nast ini saya terdorong untuk melakukan kalkulasi akutansi sederhana terhadap biaya pembuatan kemah suci ini. Ketika saya konversikan dengan perhitungan rupiah, -jika saya tidak salah hitung- maka saya menemukan angka yang cukup fantastik, yang cukup untuk membangun 3 sampai 4 gereja mewah di pusat kota Palangka Raya (ket: Hasil konversi dari 1 talenta sama dengan 43.000 gram, 1 syikal sama dengan 11.4 gram. Ambillah 1 gram emas dijual Rp.300.000 dan perak Rp.20.000, tembaga saya tidak tahu. Maka harga emas dan peraknya saja, di luar tembaga setara dengan Rp. 438.578.300.000. Biaya ini mungkin akan bertambah lagi karena belum termasuk kain tenun warna-warni. Total persembahan lihat dalam ayat 24-31). Menurut nast ini, semua biaya ini berasal dari persembahan unjukkan yang diberikan oleh jemaat (ayat 24b).

Biaya ini membawa saya pada sebuah perenungan: setarakah hasil iman yang didapat umat dengan angka 400M ini? Bukankah akan menjadi sia-sia usaha keras dari Musa, Itamar, anak imam Harun, Bezaleel bin Hur, Aholiab anak Ahisamakh dan para ahli dan tukang tenunan yang berwarna-warna, jika kemah suci ini tidak dimanfaatkan sebagaimana seharusnya. Tempat Suci? Saya membayangkan situasi gereja mewah di Eropa yang kemudian menjadi sepi dan ditinggalkan jemaatnya (menjadi omatorium). Setarakah hasil iman yang didapat dengan angka fantastik ini?

Dan kenyataan ini membuat saya juga terdorong melihat angka yang selalu ditampilkan dalam lembar berita jemaat tiap minggu, pada halaman terakhirnya. Dengan perenungan yang sama: setarakah hasil iman yang didapat jemaat, dengan persembahan hunjukkan itu? Memang, iman tidak dapat dikalkulasi seperti uang, tapi nuansa iman itu dapat dirasa dan terdeteksi dalam persekuktan dan pergaulan sehari-hari umat. Setarakah hasil iman yang didapat jemaat?

Apa yang mau kita renungkan dari nast ini?

Pertama, persembahan hunjukkan atau pemberian jemaat, hakekatnya berasal dari hati yang penuh percaya pada gereja bahwa persembahan ini digunakan untuk kemajuan Jemaat dan kepujian nama Tuhan (saya dapat ide ini dari mendengar doa persembahan para pendeta, penatua dan diakon.red). Bahwa makna dibalik persembahan jemaat itu adalah harapan mendapatkan pelayanan yang semestinya dari para pekerja Allah, yakni memperjumpakan mereka dengan keberadaan Allah. Miris rasanya jika hati yang penuh percaya ini belum dibalas dengan sepantasnya.

Kedua, Nast ini bagi saya melengkapi perenungan tentang idea jemaat perdana pada hari Senin lalu. Bahwa pembangunan sarana dan prasarana, haruss diimbangi dengan pembangunan jiwa dan iman jemaat. Karena bagaimanapun juga jemaat Allah itu, pada hakekatnya dibangun diatas dasar Yesus Kristus, yakni kerajaan yang bukan berasal dari dunia ini (Yoh 18:36). Tentu saja yang dimaksud di sini bukan sekedar realitas fisik semata-mata. Inilah yang saya maksudkan dengan mimpi Jemaat itu, yaitu membangun kerajaan Sorga. Sehingga, layanan bagi jemaat adalah layanan sorgawi. Itu layanan yang setara.

Mari menyepadankan pemberian dengan layanan Jemaat, karena disitulah letak dasar hati umat Allah itu! Karena pada hakekatnya kerinduan kita ternyata sama, yakni “harus” menerima kerajaan Allah dan Keselamatan itu.

Oleh : Pdt. Evi Nurleni,STh, M.Si-Dosen Universitas Palangka Raya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: