Oleh: jemaatsamaria | Mei 27, 2012

Rok Kudus Yang Memperbaharui

Renungan : Minggu, 27 Mei 2012 (Kisah 2:14-40)

Rok Kudus Yang Memperbaharui

Hari ini kita, umat Kristiani, memperingati hari Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus. Dalam kalender gerejawi, hari Pentakosta dihitung 10 hari sesudah hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga. Sedangkan hari kenaikan Tuhan Yesus ke Surga dihitung 40 hari sesudah kebangkitan Tuhan Yesus (Paskah). Khotbah Petrus saat hari Pentakosta juga berdasar kepada kebangkitan Kristus tidak sekedar tema khotbah, tetapi menekankan pentingnya kebangkitan. Di sini rasul Petrus sedang memberikan apologetikanya. Ia sedang menghibur umat yang dalam kesusahan dan banyak kesukaran. Rasul Petrus mengingatkan mereka tentang ajaran-ajaran inti dan paling penting dari iman Kristen. Ia sedang melawan suatu pertanyaan unsur penting lain dalam keyakinan kita, yakni, fakta pewahyuan, penginspirasian Alkitab (LIHAT JUGA 2 Ptr 1:20-21 dan Yoel 2). Petrus secara khusus mengingatkan orang-orang ini tentang natur umum nubuat dan Alkitab, yakni, Allah berbicara. Alkitab bukanlah gagasan dari pikiran dan imajinasi manusia, tetapi semuanya adalah hasil dart intervensi Allah, di mana Allah yang penuh kemurahan menyatakan dan memanifestasikan Diri-Nya kepada kita. Jika rasul Petrus hanya berkata bahwa nubuat itu lebih meyakinkan daripada apa yang disaksikan. Karena untuk menunjukkan bahwa sesuatu itu lebih baik daripada yang tidak ada, sesungguhnya sama sekali tidak perlu dipuji. Dengan perkataan lain, rasul Petrus tidak hanya menunjuk kepada orang-orang lain, tetapi termasuk dirinya sendiri, dan ia berkata “kami”, ‘para rasul’ memiliki satu kata nubuatan yang lebih meyakinkan. Hanya ada satu dan satu-satunya penjelasan yang memadai dari kata-kata ini bahwa Rasul Petrus tidak sedang membandingkan perkataan nubuat ini dengan apa yang telah ia jelaskan.

Sebenamya ia sedang membandingkan perkataan nubuat yang diberikan pada zaman dulu kepada umat yang hidup pada waktu itu, dengan perkataan nubuat yang sama pada zamannya di masa banyak nubuat yang telah terjadi. Hal ini membuat perkataan nubuat itu makin diyakini. Ini berarti bahwa perkataan nubuat itu lebih meyakinkan dibandingkan yang lain karena penggenapannya dan karena fakta-faktanya. Dengan demikian rasul Petrus berkata bahwa ada fondasi-fondasi di mana kita berdiri dan mendasarkan segala sesuatu yang lain. Para nabi berbicara tentang hal-hal yang pasti akan terjadi. Bagi para nabi dan segenap umat yang kepadanya para nabi itu berbicara adalah suatu hal yang sangat menakjubkan dan ajaib. Tetapi ketika kami memperhatikan dan merenungkan segala hal-hal itu jelas tetap akan lebih menakjubkan. Itulah argumentasi yang sering digunakan dalam Perjanjian Baru (bandingkan Ibrani 11). Petrus berpendapat ini cara yang paling menguatkan iman. Sesungguhnya ketika kita mempertimbangkan bukti dan kesaksian rasul, kita tidak lagi ragu-ragu. Tetapi lebih dari itu di dalam pengertian Perjanjian Baru segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal dihubungkan langsung dengan penggenapan, yang sempurna tentang nubatan-nubuatan. Sebab inilah yang akan memberikan kita keyakinan yang tidak dapat digoyahkan ketika kita berada di dalam hari gelap dan sukar. Kristus adalah pusat dari Alkitab; setiap bagian dari Perjanjian Lama melihat ke depan kepada-Nya, segala sesuatu di dalam Perjanjian Baru melihat ke belakang kepada-Nya. Kristus adalah pusat dari sejarah. Kristus adalah titik api dari seluruh pergerakan umat manusia mulai dari penciptaan hingga akhir zaman. Hal yang menarik dan menjadi pelajaran yang berguna bagi kita dalam nats ini ialah :

  1. Untuk mengetahui apa yang memotivasi hidup kita, akan membongkar prinsip-prinsip hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Seperti motivasi saya dalam membuat resolusi tahun baru, yaitu rasa bersalah, ternyata tanpa saya sadari telah menghambat rencana Allah bagi hidup saya. Dan yang lebih parah lagi, saya tidak dapat sungguh-sungguh hidup dalam anugerah-Nya.
  2. Apa yang memotivasi kita hidup ternyata ada korelasi dengan apa yang memotivasi kita menjadi orang Kristen. Contohnya, jika materialisme yang menjadi motivasi hidup kita, maka tidak heran kalau berkat-berkat Tuhanlah yang kita kejar-kejar terus, bukan Tuhannya.
  3. Memikirkan tentang apa yang memotivasi hidup kita, mendorong untuk memikirkan apa yang sebenamya kita anggap paling penting dalam hidup kita. Jika Allahlah yang menjadi sumber motivasi kita untuk melanjutkan hidup ini, maka kita akan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki bagi hidup kita selanjutnya. ‘Hidup bagiku adalah Kristus’, kata Rasul Paulus, maka kita akan terdorong untuk melakukan apa yang penting bagi Tuhan, dan bukan apa yang panting bagi diri kita.

Oleh : Pdt. Frits Rompas, MTh, Pendeta Resort GKE Palangka Raya Hulu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: