Oleh: jemaatsamaria | Mei 19, 2012

Mengembangkan Pola Pikir Transformatif

Renungan : Sabtu, 19 Mei 2012 (Keluaran 32:21-35)

Mengembangkan Pola Pikir Transformatif

Kita dipanggil untuk menyembah Tuhan. Jelas dikatakan bahwa kita harus menyembah Tuhan dengan benar, yaitu dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita. Itulah sebabnya penyembahan kepada Tuhan harus menjadi pusat perhatian dalam kehidupan orang percaya. Kita tidak diperkenankan menyembah Tuhan dengan asal-asalan atau seenaknya karena Dia adalah Tuhan, yang menciptakan kita. Sangat disesalkan bila banyak orang Kristen tidak menyembah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Salah satu contohnya adalah saat mereka melakukan ibadah di Gereja. Masih ada yang bersenda-gurau, mengobrol, atau tangannya sibuk memencet-mencet handphone atau bermain BBM, padahal hamba Tuhan sedang menyampaikan kotbah. Dalam memuji Tuhan pun tidak ada ekspresi dan tak bersemangat sementara worsip leader sudah bermandi peluh mendorong jemaat untuk masuk kehadirat Tuhan. Seharusnya kita sadar, bahwa ketika kita beribadah itu artinya kita sedang menghadap Sang Khalik.

Kalau kita baca di dalam Perjanjian Lama, Tuhan bertindak sangat tegas terhadap orang-orang yang tidak menyembah Dia sebagaimana mestinya. Contoh: Ketika bangsa Israel menyembah anak lembu emas (baca Keluaran 32:1-35), Tuhan sangat marah kepada mereka, akibatnya ada kira-kira tiga ribu orang bangsa Israel yang tewas. Namun Tuhan masih menunjukkan belas kasihanNya sehingga Ia tidak memusnahkan mereka semua. Namun ini cukup menunjukkan betapa Tuhan sangat benci terhadap penyembahan yang salah. Ditulis di situ: “…Tuhan menulahi bangsa itu, karena mereka telah menyuruh membuat anak lembu buatan Harun itu.” (Keluaran 32:35). Tidak ada Tuhan lain yang layak disembah! Tetapi bangsa Israel telah mengubah Tuhan menjadi sebuah patung lembu emas buatan tangan manusia. Padahal firmanNya tegas menyatakan, “…janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” (Keluaran 34:14). Bangsa Israel telah menolak menyembah Tuhan dan berpaling kepada allah yang palsu, dan tidak bisa diterima. Bukankah sampai sekarang pun banyak orang Kristen yang menyembah kepada patung, batu, pohon besar, kuburan dan sebagainya?

Apakah yang harus mereka kembangkan agar mereka dapat hidup dalam kesucian dan kesetiaan kepada Tuhan? Pola Pikir Yang Transformatif , inilah yang perlu kita kembangkang. Cita-cita “massal” agar umat Israel dapat memiliki allah tuangan yang bemama “anak lembu emas” tentunya bukanlah suatu ide yang sepintas lalu muncul begitu saja. Pastilah cita-cita tersebut telah terpendam lama sebagai suatu pola pikir atau “mindset” dalam kerohanian mereka. Dalam hal ini sebenamya umat Israel telah memikirkan secara intensif dan kondusif pola kehidupan kekafiran yang didukung oleh pola ibadat politeistis. Karena itu agar kita selaku umat Allah dapat hidup dalam kesucian dan kesetiaan kepada firman Tuhan, maka kita harus mengalami perubahan “mindset” dalam kehidupan kita. Rasul Paulus memberi nasihat sebagai berikut: “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil. 4:8). Kualitas spiritualitas dan iman kita sangat ditentukan oleh isi “mindset” atau paradigma yang kita miliki. Jadi apabila yang kita pikirkan adalah hal-hal yang duniawi, maka seluruh aspek kehidupan atau kepribadian kita juga akan dikuasai oleh hawa nafsu, walaupun kita hidup di tengah-tengah lingkungan yang mengedepankan hal-hal yang benar dan kudus. Dengan demikian prinsip kesucian dan kesetiaan kepada Tuhan bukanlah ditentukan oleh faktor-faktor eksternal, seperti: orang-orang/lingkungan di sekitar kita; tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor internal, yaitu kualitas dan pikiran dan spiritualitas kita. Apabila pola pikir kita senantiasa terarah-kepada hal-hal yang suci, mulia, adil, penuh kebajikan dan benar maka kita akan dimampukan untuk selalu hidup kudus dan setia kepada kehendak Allah; walaupun lingkungan di sekitar kite sangatlah buruk dan jahat.

Oleh : Pdt. Agustiman J. Namang, Pendeta Resort GKE Pangkoh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: