Oleh: jemaatsamaria | Mei 18, 2012

Allah Adalah Prioritas

Renungan : Jumat 18 Mei 2012 (Keluaran 32:1-20)

Allah Adalah Prioritas

Firman hari ini menceritakan tentang kisah bangsa Israel yang menyembah lembu emas. Mungkin banyak dari kita berpikir bangsa Israel itu begitu konyol. Tapi, tunggu dulu. Bangsa Israel mungkin kita bisa maklumi karena mereka sering disebut tegar tengkuk. Tapi, bagaimana kalau tokoh sekaliber Harun yang notabene sudah Tuhan rencanakan menjadi Imam besar Israel malah memimpin pembangunan patung anak lembu emas itu?

Apabila kita memperhatikan latar belakang Musa meninggalkan mereka di Kel. 24: 18 maka sangatlah jelas bahwa Musa hanya meninggalkan umat Israel selama 40 hari dan 40 malam saja. Musa tidak sampai meninggalkan umat Israel berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya. Sebenamya Musa tidak meninggalkan terlalu jauh dari umat Israel berkemah, karena dia naik ke gunung Sinai untuk menerima hukum-hukum Allah. Jadi mengapa mereka tidak tahan tanpa kehadiran Musa, sehingga mereka begitu cepat berbalik meninggalkan Tuhan dan memilih untuk menodai kekudusan iman kepada Yahweh? Padahal saat Musa akan naik ke gunung Sinai, Musa telah mendelegasikan tugas kepemimpinan kepada Harun dan Hur. Dan mengapa orang Israel bisa-bisanya memilih membuat patung anak lembu emas padahal mereka sudah melihat berbagai mukjizat Tuhan yang sangat dahsyat sepanjang perjalanan mereka?

Pertama, ini karena yang menjadi dasar pengharapan orang Israel sebenarnya bukanlah Tuhan, tapi Musa. Bangsa Israel (termasuk Harun) merasa kehilangan arah saat Musa tidak ada bersama dengan mereka.

Kedua, anak lembu emas sendiri adalah lambang kesuburan dan kemakmuran yang dibuat dari emas milik bangsa Israel. Berdasarkan hal tersebut, saya menilai bangsa Israel telah merusak kepercayaan yang telah Allah percayakan bagi mereka.

Dalam hal ini kita seringkali bersikap takabur seperti umat Israel. Karena merasa Allah telah memilih dan menyelamatkan diri kita, maka kita sering merasa boleh bertindak seenaknya sendiri. Sehingga kita berani berbuat dosa yang menentang kehendak Allah dengan suatu asumsi, toh nantinya Allah akan mengampuni kita manakala kita mengakui dosa. Jadi panggilan umat Kristen agar dapat layak hidup kudus dan setia kepada Tuhan adalah perlu terus mengenakan “pakaian pesta perjamuan kawin” yang melambangkan pola kehidupan baru di dalam Kristus dengan menyingkirkan seluruh “pakaian lama” sebagai anak-anak duniawi. Dengan spiritualitas tersebut, kita tidak pernah lagi tergantung oleh keberadaan dan pengaruh dari pemimpin yang lahiriah. Sehingga apabila terjadi suatu kevakuman dalam kepemimpinan mereka, tidak akan berpengaruh secara negatif dalam pertumbuhan kerohanian kita. Sebab kerohanian kita lebih ditentukan oleh perubahan internal diri yang transformatif, di mana kita mengarahkan seluruh pikiran kita kepada kemuliaan dan kekudusan Allah. Itu sebabnya kita akan senantiasa lebih memprioritaskan kepentingan Allah di atas segala-galanya. Dalam hal ini kita tidak lagi mencari dalih atau alasan untuk menolak setiap panggilan dan undangan Allah yang terjadi dalam kehidupan kita. Jika demikian, bagaimanakah sikap saudara? Apakah kehidupan kita sungguh-sungguh telah diubahkan secara menyeluruh oleh Kristus, setingga kita telah menanggalkan semua noda dan pakaian kekafiran dalam kehidupan kita?

 Oleh : Pdt. Agustiman J. Namang, Pendeta Resort GKE Pangkoh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: