Oleh: jemaatsamaria | Agustus 31, 2012

Belajarlah Menjadi Gembala Jemaat Yang Baik

Belajarlah Menjadi Gembala Jemaat Yang Baik

Zakharia 11:1-14

Berbeda dengan bagian sebelumnya, ada tn.dikasi pada ayat 14, yang dalam bahasa Indonesia masa kini dikatakan “….maka pecahlah persaudaraan antara Yehuda dan Israel”. Hal itu terjadi sebelum pembuangan ke Babel yaitu pada zaman pamerintahan Rehabeam anak Salomo yang mengakibatkan kerajaan yang semula utuh terpecah dua, kerajaan Utara (Israel yang terdiri dari 10 suku) dengan kerajaan Selatan atau Yehuda.

Perpecahan terjadi karena sudah sejak pemerintahan Salomo rakyat banyak menderita karena antara lain beban pajak sangat berat. Waktu Rehabeam naik tahta rakyat minta supaya beban mereka bisa menjadi ringan tetapi Rehabeam menolak, bahkan mengatakan kepada rakyat : kalau ayahku memberikan beban yang berat kepadamu, aku akan memberikan yang Iebih berat lags (I Raja 12:10­11). Akibatnya kerajaan itu terpecah dua.

Kemudian dalam ayat-ayat berikutnya yang disebut gembala adalah para pemimpin masyarakat yaitu raja-raja dan para pemimpin kerohanian. Para gembala ini semestinya memelihara dan memberi makan kawanan ternaknya, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Akibatnya Tuhan menghukum baik para pemimpin maupun umat secara keseluruhan.

Dalam gereja para pendeta, penatua, diakon dan guru agama adalah gembala bagi warga gereja. Sebagai gembala kita bertugas memberi makanan rohani, membimbing, menghibur dan menunjukkan jalan. Mereka yang sakit dan punya beban perlu dikunjungi juga supaya mereka lebih mengenal siapa yang dipercaya sebagai gembala di lingkungan jemaatnya. Tanpa mengenal keadaan jemaat dengan lebih baik, khotbah yang disampaikan tidak akan lebih mengena, ibarat pesawat yang tidak mendarat. Karena kunjungan untuk keluarga sangat penting, apalagi kalau ada yang sakit. Kalau ada yang sakit kehadiran kita sebagai gembala sangat panting, biarpun kita tidak mengucapkan sesuatu. Saya sendiri menyesali dan merasa bersalah, karau mengetahui ada jemaat yang sakit dan kemudian men­inggal dunia, sedangkan saya sendiri tidak pemah atau tidak sempat mengunjungi. Saya merasa bahwa saya melalaikan suatu tugas yang semestinya saya lakukan. Sebab itu dalam melaksanakan atau menerima tugas sebagai gembala bagi jemaat kita perlu bertanya : apakah kita sudah belajar meniru teladan Yesus gembala yang baik, yang mau berkorban bagi sesama khususnya bagi warga jemaat? Cara berkorban yang amat sederhana misalnya memberitahukan kepada pendeta atau ke kantor Majelis Jemaat kalau ada anggota jemaat kita yang sakit atau mempunyai masalah. Maksudnya agar dikunjungi dan didoakan. Ini menghindari kesan bahwa kita tidak peduli terhadap keadaan anggota jemaat kita yang mempunyai masalah. Kita selalu harus belajar menjadi gembala yang baik bagi jemaat, disamping kita harus memikirkan kepentingan sendiri atau kepentingan keluarga.

Pdt. Emr. Inggie Numur. STh. Pendeta Resort GKE Palangka Raya Hilir

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)

Oleh: jemaatsamaria | Agustus 30, 2012

Mengasihi Sesama Adalah Kewajiban Orang Percaya

Mengasihi Sesama Adalah Kewajiban Orang Percaya

Zakharia 7:1-14

Siapakah orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat 3 tidak jelas. Apa mungkin mereka benar datang dari Betel? Penduduk Betel adalah orang-orang campuran yang campur aduk dalam soal kepercayaan. Apakah mereka mengirim utusan ke Yerusalem padahal kurang lebih 2 tahun yang lalu orang-orang dari daerah itu dilarang untuk membangun Bait Suci. Ada anggapan bahwa orang-orang ini datang dari Babel, yaitu orang Yahudi di sekitar raja. Atau Sarezer dan Regem Melekh adalah orang terkemuka dari Yehuda yang meminta nasehat bagi mereka sendiri. Zakharia memakai kesempatan untuk menyampaikan suatu pesan.

Dalam khotbah mengenai sejarah nabi ini mengingatkan peranan nabi-nabi sebelum pembuangan, sikap bangsa Israel dan akibatnya. Oulu Israel ditegur supaya bertobat. Tetapi sekarang hukuman telah terlaksana. Teguran-teguran tidak Iagi diberi secara Iangsung melainkan memakai masa Iampau sebagai contoh.

Isi khotbah Zakharia tentang persoalan puasa mengatakan bahwa puasa dan ratapan yang dilakukan oleh mereka pada bulan ke lima dan ketujuh bukanlah merupakan penghormatan kepada Allah. Puasaku sama dengan makan dan minum yang gunanya hanya untuk manusia itu sendiri.

Zakharia mengatakan puasa tidak panting dlbandingkan dengan melakukan keadilan dan cinta kasih terhadap sesama manusia. Tidak berlaku adil dan tidak mengasihi sesama manusia itulah yang kemudian membuat baik penduduk kerajaan Utara maupun kerajaan Selatan dihukum Tuhan dibuang ke negeri asing.

Sikap mengasihi sesama itulah yang dituntut Tuhan Yesus dengan hukum kasih (Matius 22:39) Kasih terhadap sesama sudah semakin kurang, yang biasanya dikasihi adalah did sendiri, keluarga dan orang yang searran dengan mereka.

Negara atau pemerintahpun tidak jarang melakukan ketidak adilan terhadap warganya. Itu terjadi kalau Negara tidak mampu melindungi warganya baik didalam maupun diluar negeri. Negara juga berbuat tidak adil kalau koruptor kelas kakap tetap berkeliaran atau dihukum ringan saja, sedangkan kejahatan seperti mencuri ayam dihukum tidak sesuai. Negara kita terkenal sebagai salah satu Negara terkurop di dunia dan disana sini masih terjadi pelanggaran HAM. Penulis Amsal mengatakan bahwa keaddan dan kebalcan mengangkat martabat bangsa, tetapi dosa membuat bangsa itu menial hina (Amsal 14:34).

Pdt. Emr. Inggei Numur. STh. Pendeta Resort GKE Palangka Raya Hilir

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)

Oleh: jemaatsamaria | Agustus 29, 2012

Memohon Supaya Hidup Dipimpin Roh Kudus

Memohon Supaya Hidup Dipimpin Roh Kudus

Zakharia 6:1-8

Ada sejak terjemahan Perjanjian Lama kedalam bahasa Yunani yang disebut Septuaginta pada abad kedua SM, tafsiran mengenai penglihatan yang kedelapan ini sudah ditentukan oleh ayat 8b, septuaginta mengatakan : “menetramkan hukumanNya terhadap Israel di Utara, di Babilon yang disebut Utara (karena jalan kesana harus melalui Damsyik, jadi ke Utara dulu)

Bagian akhir ayat 8 ini berbicara tentang Roh Tuhan. Para penafsir mengartikan bahwa Roh Tuhan diturun ke Utara untuk menggenakkan pertama-tama bangsa Yahudi yang masih tinggal di Babel, kemudian bangsa­-bangsa lain yang pada zaman Mesiamis ikut memberikan sumbangan untuk pembangunan Bait Suci, supaya semua datang menuju Yerusalem.

Beberapa rincian mengenai seluk beluk kerata-kereta itu memang tidak jelas. Tetapi yang jelas adalah bersama-sama memperlihat bahwa kehendak Tuhan itu terlaksana di seluruh bumi, dimana-mana saja. Kuasa dan Roh Tuhan tidak hanya ada di Yehuda, tetapi juga di Babel dan diseluruh dunia dimana umatnya tersebar.

Seringkali orang secara tidak sadar membatasi kuasa dan kehadiran Tuhan. Ada orang beranggapan bahwa Allah hadir hanya di tempat-tempat tertentu atau pada saat-saat tertentu. la ada di gereja karena itu rumahnya, khususnya pada saat kebaktian. Kemudian ada juga anggapan bahwa hari Tuhan itu adalah hari Minggu, sedangkan hari-hari yang lain tidak. Di hari-hari yang lain itu adalah urusan saya. Tuhan hanya dianggap bekerja di bidang kerohanian, sedangkan di lapangan bisnis, politik, sosial dan kemasyarakatan kitalah yang bekerja.

Anggapan keliru ini perlu dibetulkan. Tuhan hadir di segenap lapangan kehidupan. Ia tahu apa yang kita lakukan, tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Kitapun harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Kitapun harus bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan di bidang apa saja. Banyak orang senang memilih jalan pintas untuk mencapai sesuatu. Banyak orang berfikir bahwa yang penting adalah tujuan yang kita pakai, sehingga untuk mencapai tujuan itu orang tidak segan-segan untuk memakai segala cara, biarpun dengan cara yang tidak sesuai dengan kaidah moral atau kehendak Tuhan. ltulah cara-cara yang ditempuh oleh banyak orang saat ini. Tetapi Tuhan Yesus mengingatkan kita supaya melalui jalan yang sempit (jalan hidup) yang susah tetapi sesuai dengan kehendak Tuhan, daripada memilih jalan yang luas dan lebar yang dilalui oleh banyak orang, tetapi jalan itu tidak membawa kita kepada kehidupan yang sejati dan kekal, tetapi jalan yang menuju kebinasaan (baca Mat. 7:13-14).

Roh Tuhan memang secara khusus berada ditengah kehidupan orang-orang percaya. Ia selalu menuntun supaya hidup orang percaya berkenan kepada Tuhan. Bapak Hambran Amri (alm) pernah mengatakan bahwa persekutuan umat dari mana beliau dulu berasal memang baik, tetapi kekurangannya ialah dalam persekutuan mereka itu tidak ada Roh Kudus. Buktinya kalau tidak ada musuh dari luar maka musuh dari dalam (dari lingkungan intern mereka sendiri).

Karya Roh Kudus pun tidak dapat dibatasi hanya kalau orang mampu berbahasa Roh atau dapat berbuat mujizat. Gampang mengatakan bahwa para pendeta yang tidak mampu berbahasa Roh dan tidak dapat berbuat mujizat merupakan bahwa bahasa Roh Kudus tidak ada pada mereka. Padahal Roh Kudus bisa bekerja dengan cara yang lain. Dan yanglebih penting apakah seseorang mempunyai Roh Kudus didalam dirinya akan terlihat dari buah-buah atau bukti-bukti yang kelihatan dalam kehidupan. Rasul Paulus memberikan indikasi tentang orang dipimpin Roh Kudus seperti yang IA katakan dalam Galatia 5:22-23. Sebab itu kita harus selalu memohon supaya Roh Kudus tetap didalam kita dan memimpin kita pada jalan yang benar.

Pdt. Emr. Ingge Namur. STh Pendeta Resort GKE  Palangka Raya Hilir

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)

Oleh: jemaatsamaria | Agustus 28, 2012

Dosa Akibat Pengaruh Lingkungan

Dosa Akibat Pengaruh Lingkungan

Zakharia 5:5-11

Nas ini kembali berhubungan dengan dosa. Disini harus dibedakan antara dosa atau kejahatan konkrit yang dilambangkan dengan gantang, dengan dosa yang satu lagi yang dibelakang segala perbuatan jahat, yang disini digambarkan dengan seorang wanita. Intisari dosa disini adalah menolak Allah dengan mengikuti dewa-dewa lain. Hal ini biasanya digambarkan sebagai persundalan.

Dalam nas ini dibawa ke Sinear nama kuno untuk Babilon, yang sampai zaman Perjanjian Baru adalah lambang kejahatan (band. isi kitab Wahyu). Dengan ini dinyatakan bahwa bangsa asing pun akan mengalami hukum Allah, sebab Babilon melambangkan kebudayaan dan kepercayaan yang merupakan ancaman bagi kepercayaan Israel.

Bagi kita sekarang yang menjadi ancaman bagi kepercayaan dan moral umat bukan hanya akibat pengaruh yang berasal dari luar negeri, walaupun ada yang beranggapan demikian. Sebenarnya moral bangsa ini sudah lama rusak, jauh sebelum rencana mengundang untuk hadirnya Lady Gaga.

Sebab itu daripada menganggap bahwa pengaruh dari luar negeri yang merusak moral anak-anak muda, kita lebih balk kita lebih serius membina dan membentengi anak-anak muda kita, dari pengaruh lingkungan disekitar kita ini yang dampaknya bagi kehidupan mereka. Contohnya adalah masalah hubungan seksual diluar nikah. Sekarang banyak orang tidak lagi menganggap sebagai sesuatu kebanggaan kalau mereka atau mereka tidak pernah mengadakan hubungan seksual sebelum menikah. Mereka sedikitpun tidak merasa malu untuk minta supaya pernikahannya biarpun sudah hamil diberkati di gereja. Kalau dulu pernikahan seperti itu dirumah saja. Kehidupan kita manusia memang dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, khususnya lingkungan pergaulan disekitar. Jikalau lingkungan itu baik, artinya bisa menimbulkan pengaruh yang baik, maka dapat dipastikan bahwa manusia yang dibentuk olehnya akan baik. Sebaliknya kalau lingkungan yang didalam orang itu hidup kurang baik, misalnya keluarga yang retak atau berantakan, teman-teman sepergaulan mempunyai kebiasaan yang buruk, maka. akibatnya pasti buruk bagi orang yang hidup dilingkungan seperti itu. Itu sebabnya perlu dibentuk lingkungan yang dapat menimbulkan pengaruh yang positif. Gereja melalui kelas katekisasi, akan membentuk sitat anak-anak muda kita yang baik. Tetapi masalahnya kegiatan seperti ini selama ini tidak menarik anak-anak kita. Buktinya yang ikut atau hadir hanya sedikit. Mungkin juga karena pihak orang tua mereka tidak pernah mendorong supaya anak-anak mereka mengikuti kegiatan seperti itu. Apakah karena orang tua mereka tidak menganggap kegiatan seperti itu penting?

Kenyataannya menunjukkan bahwa ada saja anak-anak kita yang berpindah ke agama lain, biar pun pernah ikut katekisasi atau belajar tentang agama Kristen. Penyebabnya selain karena kelemahan yang bersangkutan sendiri, juga karena pihak keluarga bersikap masa bodoh soal kerohanian atau tidak perduli soal-soal seperti keselamatan.

Keluarga kristen semestinya belajar dari keluarga Timotius. lbunya yang bemama Eunike dan neneknya yang bernama Lois berhasil mewariskan iman kristen itu kepada seorang anak muda yang bemama Timotius, sehingga ia dapat diandalkan oleh Paulus sebagai teman sekerja yang dapat dipercaya untuk menjadi penginjil dan gembala jemaat di pulau Kereta (baca 2 Tim.1:5). Mewariskan anak cucu kita dengan harta benda dan menyekolahkan mereka setinggi mungkin memang perlu, tetapi yang tidak kurang pentingnya adalah mewariskan iman atau kerohanian karena itu yang membawa kepada keselamatan.

Pdt. Emr. Inggei Numur, S.Th. Pendeta Resort GKE Palangka Raya Hilir.

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)

Oleh: jemaatsamaria | Agustus 27, 2012

Jangan Pernah Berkompromi Dengan Dosa

Jangan Pernah Berkompromi Dengan Dosa

Zakharia 5:1-4

Nabi Zakharia bernubuat antara tahun 520 s/d 518 SM di tengah umat Israel yang baru kembali dari pembuangan di Babel, pasal 1 sampai 8 berisi ramalan-ramalan yang kebanyakan dalam bentuk pengli­hatan. Penglihatan yang keenam pasal 5:1-4 ini merupakan kesatuan dengan penglihatan yang ketujuh. Keduanya berkisar tentang soal dosa. Penglihatan itu menunjukkan bahwa orang-orang berdosa yaitu para – pencuri dan mereka yang bersumpah palsu akan dihukum.

Zakharia melihat gulungan kitab yang terbuka dan ia melihat ukurannya, yaitu sama dengan ukuran ruangan depan Bait Suci yang dibuat oleh Salomo (I Raja 6:3). Gulungan itu ditulis yang isinya adalah mengenai kutuk terhadap para pencuri dan yang bersumpah palsu itu. Kedua macam dosa ini banyak muncul dalam situasi, dimana masih banyak perkara mengenai hak milik seperti tanah diperebutkan antara orang-orang yang tinggal di Yerusalem dan sekitarnya dengan orang-orang yang kembali dari pembuangan di Babel yang menuntut kembali milik nenek moyang mereka.

Orang-orang berdosa itu dicari satu-persatu dirumah mereka masing-masing. Di sini tidak ada lagi hukuman kolektif seperti yang terjadi waktu pembuangan dalam jaman yang baru, yang disebut zaman keselamatan, hukuman akan dijatuhkan pada individu-individu. Orang-orang yang berdosa itu akan diusir satu persatu.

Ada banyak orang yang tidak menganggap dosa itu sebagai suatu yang serius, yang seakan-akan dianggap   enteng  oleh Tuhan. Padahal dosa itu adalah sebagai suatu kuasa yang memperbudak manusia. Paulus mengatakan bahwa orang yang senang berbuat dosa adalah hamba dari dosa. Sebagai hamba dosa, orang hauss melakukan apa yang dikehendaki oleh tuannya yaitu dosa (bdk.Roma 6).

Ada juga orang yang beranggapan bahwa yang mendapatkan hukuman Tuhan nanti hanyalah mereka yang tidak percaya kepada Yesus. Sedangkan kita yang sudah percaya kepada Yesus aman saja. Alkitab tidak mengatakan demikian setiap orang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Iman itu harus nyata dalam perbuatan dan setiap sikap hidup. Pertobatan tidak cukup hanya satu kali seumur hidup, tetapi setiap hari, sebab orang yang baik hari ini besok bisa jatuh dalam dosa. Dosa itu harus dilawan. Dosa adalah suatu kuasa yang dengannya kita tidak boleh berkompromi. Tuhan Yesus membenci dosa dan orang-orang yang bertahan dalam dosa pasti dihukum, sebab itu Yesus berkata kepada perempuan yang kedapatan berbuat zinah itu “akupun tidak menghukum engkau pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh.8:11).

Dosa mencuri dan bersumpah palsu seperti dalam nas kita selalu menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Mencuri tidak hanya terbatas pada mencuri barang atau uang. Segala sesuatu yang sifatnya mengambil Yang bukan hak milik kita dan merugikan pihak lain seperti korupsi atau tidak mempergunakan waktu lalu merugikan pihak lain adalah sama dengan mencuri. Sedang sumpah palsu diucapkan sebagai pembelaan bahwa yang bersangkutan tidak bersalah. Sumpah palsu itu gampang sekali keluar dari mulut seseorang. Misalnya orang yang mengatakan “kalau saya berbuat itu, gantung saja saya di Monas.’ Terhadap sesama manusia kita bisa berbohong, tetapi Tuhan tidak bisa dibohongi. Dan terhadap Dia kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita.

 

Pdt. Emr. Ingge Namur. STh Pendeta Resort GKE  Palangka Raya Hilir

(Sumber : http://msgke-kalteng.org)

Older Posts »

Kategori